Dunia yang kita kenal dua dekade lalu tidak lagi sama dengan dunia yang dihadapi anak-anak kita hari ini. Revolusi industri keempat — yang ditandai oleh konvergensi kecerdasan buatan, otomatisasi, komputasi awan, dan Internet of Things — telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan berpikir. Menurut Schwab perubahan ini bukan sekadar pergeseran teknologis; ini adalah pergeseran peradaban.
Kissinger, Schmidt, dan Mundie (2024) dalam Genesis menegaskan bahwa umat manusia kini berhadapan bukan sekadar dengan teknologi baru, melainkan dengan entitas yang mampu bernalar, menghasilkan pengetahuan, dan mengambil keputusan melampaui batas kemampuan manusia secara individual. Mereka menyebutnya sebagai "momen genesis" — titik awal dari sebuah era yang belum pernah dialami peradaban manusia sebelumnya, dan yang membawa serta dilema-dilema eksistensial: siapa yang mengendalikan Artificial Intellegence (AI), untuk tujuan apa, dan atas nilai-nilai siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut mereka, bukan milik para ilmuwan komputer semata — melainkan milik seluruh elemen masyarakat, termasuk para pendidik.
Laporan Future of Jobs yang diterbitkan olehWorld Economic Forum (2023) memproyeksikan bahwa pada tahun 2027, sekitar 85 juta pekerjaan akan terdisrupsi oleh otomatisasi dan AI, sementara 97 juta peran baru akan muncul — peran yang sebagian besar belum ada namanya hari ini. Artinya, anak yang duduk di bangku kelas 4 SD saat ini kemungkinan besar akan bekerja dalam profesi yang belum bisa kita bayangkan sepenuhnya.
Yang membuat momen ini berbeda dari revolusi-revolusi sebelumnya adalah kecepatannya. Revolusi industri pertama membutuhkan beberapa generasi untuk mengubah struktur masyarakat. AI generatif — teknologi yang memungkinkan mesin menghasilkan teks, gambar, kode, bahkan musik — berkembang dalam hitungan bulan, bukan dekade. ChatGPT, yang diluncurkan pada November 2022, mencapai 100 juta pengguna hanya dalam dua bulan — rekor pertumbuhan tercepat dalam sejarah aplikasi digital. Anthropic baru-baru ini membuat heboh dunia dengan meluncurkan Claude Opus 4.6 yang berpotensi menghancurkan aplikasi notion dan sejenisnya. Seakan akan kita saat ini dipertontonkan perlombaan inovasi AI oleh Open AI, Anthropic, Google, dan Meta.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju. Indonesia sendiri berada di persimpangan yang krusial: dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, lebih dari separuhnya berusia di bawah 30 tahun, dan tingkat penetrasi internet yang terus meningkat, Indonesia memiliki potensi besar sekaligus tantangan besar (BPS, 2022; APJII, 2023). Bonus demografi yang sering disebut sebagai keunggulan Indonesia hanya akan menjadi kenyataan jika generasi mudanya siap menghadapi — bukan sekadar bertahan dari — era AI.
Di tingkat global, negara-negara seperti Singapura, Finlandia, dan Korea Selatan telah menjadikan literasi AI sebagai bagian dari kurikulum nasional mereka. Tiongkok mengintegrasikan pendidikan AI sejak sekolah dasar melalui kebijakan New Generation AI Development Plan. Amerika Serikat melalui National AI Initiative Act mendorong pembentukan generasi yang melek AI sebagai prioritas strategis nasional. Dunia sedang bergerak — dan pendidikan adalah lokomotif utama yang menentukan seberapa jauh suatu bangsa mampu melaju.
Perubahan lanskap global ini memunculkan satu pertanyaan mendasar yang tidak bisa lagi ditunda: apakah sistem pendidikan kita sedang mempersiapkan siswa untuk dunia yang sudah ada, atau untuk dunia yang sedang datang?
Mengapa Pendidikan Tidak Bisa Menghindari AI
Ada godaan yang sangat manusiawi untuk menghindari hal yang belum dipahami sepenuhnya. Banyak pendidik yang merasa bahwa AI adalah urusan teknisi, bukan urusan guru. Bahwa cukuplah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, berpikir kritis, dan karakter — selebihnya biarlah teknologi mengurus dirinya sendiri.
Pandangan ini, meskipun berangkat dari niat yang baik, mengandung satu kekeliruan mendasar: AI sudah ada di dalam ruang kelas, dengan atau tanpa izin guru.
Saat siswa mengerjakan esai, sebagian dari mereka sudah menggunakan ChatGPT, Gemini, Claude atau Copilot. Saat mereka mencari referensi, algoritma AI menentukan konten apa yang muncul pertama. Saat guru menggunakan aplikasi rapor digital, sistem rekomendasi berbasis AI sudah bekerja di baliknya. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center (2023) menemukan bahwa 26% remaja Amerika menggunakan ChatGPT untuk keperluan sekolah — angka yang kemungkinan besar lebih tinggi jika diukur ulang hari ini. AI bukan masa depan pendidikan — AI sudah menjadi bagian dari realitas pendidikan hari ini, hanya saja kebanyakan berlangsung tanpa disadari dan tanpa panduan.
Pertanyaannya menurut Holmes (2019) bukan lagi apakah AI akan masuk ke ruang kelas, melainkan bagaimana kita akan menyambut dan mengelolanya.
AI Mengubah Apa yang Perlu Diajarkan
Selama berabad-abad, pendidikan formal sangat berorientasi pada transmisi pengetahuan — menyampaikan fakta, prosedur, dan keterampilan dari guru kepada murid. Model ini masuk akal ketika akses terhadap informasi terbatas. Namun kini, hampir seluruh pengetahuan manusia yang terdokumentasi dapat diakses dalam hitungan detik. Dan AI tidak hanya mengakses pengetahuan itu — AI dapat meringkas, menganalisis, menyintesis, bahkan menghasilkan konten baru darinya.
Ini berarti kemampuan mengingat dan mereproduksi informasi — yang selama ini menjadi tolok ukur utama keberhasilan belajar — tidak lagi cukup sebagai bekal. Yang menjadi semakin berharga adalah kemampuan yang justru sulit ditiru mesin: berpikir kritis terhadap informasi yang dihasilkan AI, berkolaborasi secara etis dengan teknologi, mengajukan pertanyaan yang tepat, memiliki empati dan kepekaan sosial, serta membuat keputusan bermakna dalam situasi yang ambigu dan penuh ketidakpastian (Luckin et al., 2016; Selwyn, 2019).
Guru yang memahami AI dapat merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan-kemampuan ini secara sengaja dan sistematis. Guru yang mengabaikan AI berisiko terus mengajarkan keterampilan yang perlahan-lahan akan diotomatisasi
AI Mengubah Cara Siswa Belajar
Generasi yang duduk di bangku sekolah hari ini tumbuh dengan antarmuka yang responsif, personal, dan instan. Mereka terbiasa mendapatkan umpan balik segera — dari game, media sosial, hingga mesin pencari. AI mempertegas ekspektasi ini: siswa kini bisa mendapatkan penjelasan materi dalam bahasa yang mereka pilih, dengan contoh yang relevan dengan minat mereka, kapan pun mereka mau
Ini bukan ancaman bagi guru — ini adalah sinyal bahwa peran guru perlu berevolusi. Guru tidak lagi bersaing dengan AI sebagai sumber informasi. Guru menjadi sesuatu yang jauh lebih penting: pembimbing yang membantu siswa membangun hubungan yang sehat, kritis, dan produktif dengan teknologi; fasilitator pengalaman belajar yang tidak bisa digantikan oleh layar; dan model manusia dewasa yang menunjukkan bagaimana berpikir dan bertindak secara bijak di tengah banjir informasi (Williamson & Eynon, 2020).
AI Mengubah Tantangan Integritas Akademik
Kemunculan AI generatif juga menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan: bagaimana memastikan bahwa proses belajar benar-benar terjadi, bukan sekadar hasil akhir yang diproduksi oleh mesin? Ketika siswa bisa menghasilkan esai berkualitas tinggi dalam hitungan detik, apa sesungguhnya yang kita nilai dalam pendidikan?.
Pertanyaan ini mendorong pendidik untuk memikirkan ulang desain asesmen — bukan dengan membangun tembok yang lebih tinggi untuk mencegah penggunaan AI, tetapi dengan merancang tugas-tugas yang secara inheren menuntut keterlibatan otentik siswa: refleksi personal, dialog langsung, proses kreatif yang terdokumentasi, dan demonstrasi pemahaman dalam konteks nyata.
Literasi AI adalah Literasi Abad Ini
Seperti halnya kemampuan membaca dan menulis menjadi prasyarat partisipasi dalam masyarakat modern, literasi AI — kemampuan memahami cara kerja AI, menggunakannya secara efektif, mengenali batasannya, dan bersikap kritis terhadapnya — akan menjadi prasyarat partisipasi penuh dalam masyarakat abad ke-21.
Dan siapa yang paling strategis untuk membangun literasi ini pada generasi berikutnya? Guru. Bukan karena guru harus menjadi ahli teknologi, tetapi karena guru adalah jembatan antara pengetahuan dan manusia, antara alat dan kebijaksanaan, antara kemampuan dan karakter.
Itulah mengapa pendidikan tidak bisa — dan tidak seharusnya — menghindari AI. Bukan karena AI memaksa, tetapi karena siswa kita membutuhkan pendidik yang berani hadir di garis terdepan perubahan, bukan menunggu di belakang sampai semua menjadi jelas.
Kesimpulan
Perubahan lanskap global yang dipicu oleh kecerdasan buatan bukan sekadar fenomena teknologi — ia adalah ujian peradaban. Dari proyeksi World Economic Forum (2023) tentang disrupsi jutaan lapangan kerja, hingga peringatan mendalam Kissinger, Schmidt, dan Mundie (2024) dalam Genesis tentang dilema eksistensial yang menyertai evolusi AI yang pesat, satu benang merah menjadi semakin jelas: dunia sedang berubah lebih cepat dari kemampuan institusi-institusi lama untuk beradaptasi — dan pendidikan tidak terkecuali.
AI bukan ancaman yang datang dari luar ruang kelas. Ia sudah hadir, sudah digunakan, dan sudah membentuk cara berpikir generasi yang kita didik. Mengabaikannya bukan pilihan yang netral — ia adalah keputusan untuk membiarkan perubahan terjadi tanpa panduan, tanpa nilai, dan tanpa arah. Sebaliknya, merespons AI dengan kesiapan intelektual dan moral adalah bentuk tanggung jawab tertinggi seorang pendidik di abad ini.
Pendidikan yang relevan hari ini bukan pendidikan yang mengajarkan cara menggunakan AI semata, melainkan pendidikan yang membekali siswa dengan kemampuan untuk mempertanyakannya, menilainya secara kritis, dan menggunakannya demi kebaikan yang lebih luas. Sebagaimana ditegaskan oleh Kissinger dkk, potensi transformatif AI hanya akan membawa harapan — bukan ancaman — jika masyarakat manusia, termasuk komunitas pendidikan, memilih untuk menjadi aktor aktif dalam membentuk arah perkembangannya, bukan sekadar penonton yang tersapu arus.