Stanford Accelerator for Learning dan Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) menyelenggarakan AI + Education Summit.
Salah satu event AI terbesar ini mempertemukan para peneliti, pendidik, pemimpin teknologi, pembuat kebijakan, dan mitra filantropi di saat ketidakpastian yang nyata—dan kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya. AI berkembang lebih cepat daripada sistem pembelajaran, menimbulkan pertanyaan mendesak tentang kreativitas, pemikiran kritis, keadilan, kepercayaan, kesempatan, dan apa arti sebenarnya dari belajar.
Pertemuan tahun ini membahas titik balik tersebut: bagaimana AI, yang berlandaskan ilmu pembelajaran, dapat memperkuat pembelajaran alih-alih melemahkannya, memperluas kreativitas dan pemikiran kritis alih-alih mempersempitnya, dan membantu kita menggerakkan pendidikan dari akses universal menuju pembelajaran universal untuk setiap pelajar
Pertemuan tahun keempat ini menandai sebuah "titik balik" di mana teknologi AI berkembang lebih cepat daripada sistem pembelajaran tradisional. Fokus utama acara ini adalah mengeksplorasi bagaimana AI dapat memperkuat pembelajaran manusia, memperluas kreativitas, dan memastikan bahwa inovasi ini didasarkan pada ilmu pembelajaran (learning sciences) serta tetap menjaga hubungan manusia sebagai pusat pendidikan. Peserta didorong untuk bergerak dari sekadar akses universal menuju pembelajaran universal yang disesuaikan untuk setiap pelajar
Ada banyak pemateri yang hadir dalam forum edtech tersebut, mulai dari praktisi pendidikan Universitas Stanford, perusahaan global tech seperti Google, Adobe Anthropic, dan masih banyak lagi.
Berikut catatan resume materi dari beberapa nara sumber
1. Patrick Hynes (Senior Manager of Research Communities, Stanford HAI)
Menyoroti kecepatan perubahan yang luar biasa; tahun lalu penggunaan AI masih bersifat hipotetis, namun kini mayoritas siswa K-12 di AS telah menggunakan alat AI generatif dalam keseharian mereka. Hynes menekankan pentingnya komunitas, kepedulian, dan rasa ingin tahu dalam membangun masa depan di mana AI diintegrasikan secara bijak untuk kepentingan pendidik dan pelajar. Ia juga menyatakan bahwa kolaborasi multidisiplin diperlukan untuk memastikan AI memenuhi janjinya sekaligus memitigasi risikonya.
2. Amanda Bickerstaff (CEO, AI for Education)
Amanda mengungkapkan data bahwa 40% pengguna aktif ChatGPT berusia di bawah 25 tahun, yang menunjukkan betapa besarnya dampak teknologi ini pada generasi muda. Ia menekankan pentingnya transisi dari literasi AI menuju kemahiran (fluency) AI dalam dua hingga tiga tahun ke depan untuk membekali siswa menghadapi masa depan.
Amanda mempresentasikan tiga skenario masa depan pendidikan: pengukuhan metode tradisional, dominasi algoritma sepenuhnya, atau "messy middle" di mana sekolah menjadi tempat belajar yang tangkas untuk terus beradaptasi.
3. Bethanie Drake-Maples (CEO, Atypical AI; Peneliti, Stanford GSE)
Mempelajari "AI Companions" (Sahabat AI) sebagai regulator sosial dalam ekologi pembelajaran siswa. Bethanie menemukan bahwa sahabat AI dapat meningkatkan kesadaran diri dan strategi koping siswa, serta membantu mereka merasa lebih aman saat mencari bantuan akademik. Ia menyarankan agar desain AI fokus pada otonomi kognitif pengguna, sehingga teknologi ini mendorong kemandirian alih-alih ketergantungan.
4. Alon Harris (Senior Program Manager, Google Research)
Memperkenalkan "AI Quests", sebuah inisiatif kolaboratif antara Google dan Stanford untuk membangun literasi AI melalui pengalaman yang imersif dan gamifikasi. Program ini memungkinkan siswa "menjadi peneliti" untuk memecahkan masalah global nyata seperti prakiraan banjir dan diagnosis penyakit mata menggunakan AI. Tujuannya adalah membongkar mitos "kotak ajaib" AI dan menunjukkan kepada siswa bahwa keberhasilan AI bergantung pada keputusan manusia dalam mengumpulkan, membersihkan, dan menguji data.
5. Neerav Kingsland (Strategic Initiatives, Anthropic)
Neerav berpendapat bahwa dalam jangka panjang, ekonomi dan pekerjaan akan bergeser secara radikal, sehingga fokus pendidikan harus berubah.
Ia mengusulkan agar pendidikan lebih menekankan pada pembentukan individu menjadi manusia yang berkembang (flourishing) dan warga negara yang baik, dibandingkan hanya fokus pada pelatihan tenaga kerja. Neerav juga menekankan bahwa penilaian yang tepat (seperti ujian lisan yang didukung AI) akan menjadi kunci untuk menjaga integritas akademik di masa depan.
6. Torie Bates (EdTech Innovation Program Manager, Google.org)
Berperan dalam mendukung dan memberikan penghargaan kepada para pemenang "Great AI Challenge". Tories menyatakan kekagumannya terhadap berbagai ide inovatif yang muncul untuk menyelesaikan masalah dunia nyata dan mentransformasi masa depan pembelajaran. Serta ia menyoroti pentingnya solusi yang menempatkan pendidik dan pelajar sebagai pusat dari desain AI.
Kesimpulan
Berdasarkan rangkaian diskusi dan presentasi dalam AI+Education Summit 2026, berikut adalah kesimpulan komprehensif mengenai titik balik (inflection point) integrasi AI dalam dunia pendidikan:
1. AI sebagai Titik Balik Desain, Bukan Takdir
Pertemuan ini menekankan bahwa kita berada pada titik balik di mana penggunaan AI telah bergeser dari sekadar hipotetis menjadi kenyataan sehari-hari bagi mayoritas siswa. Namun, dampak AI terhadap pendidikan bukanlah hasil yang sudah ditentukan sebelumnya, melainkan sebuah pilihan desain. Keberhasilannya sangat bergantung pada komitmen untuk menempatkan ilmu pembelajaran (learning sciences) sebagai prioritas utama dan memastikan hubungan serta konteks manusia tetap menjadi pusat dari semua inovasi teknologi.
2. Pergeseran Paradigma: Proses vs. Produk
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana AI dapat "memotong jalan" proses pembelajaran.
• Fokus pada Proses: Pendidikan harus beralih dari sekadar menilai produk (seperti esai atau kode program) menjadi lebih menghargai proses belajar itu sendiri.
• AI sebagai Topik, Bukan Sekadar Alat: AI tidak boleh hanya dianggap sebagai alat teknis, tetapi harus diajarkan sebagai topik kurikulum yang mendalam, mencakup mekanisme cara kerjanya, bias, hingga etika penggunaannya.
• Kemahiran AI (AI Fluency): Literasi dasar tidak lagi cukup; dunia pendidikan harus membekali siswa dengan kemahiran AI dan kemampuan kritis untuk mengetahui kapan mereka harus memilih untuk tidak menggunakan AI.
2. Augmentasi Peran Pendidik dan Pelajar
AI dipandang sebagai alat untuk memperkuat (augment) potensi manusia, bukan menggantikannya:
• Asisten Guru (TA) Canggih: AI bertindak sebagai analis data dan asisten yang membebaskan guru dari tugas administratif, sehingga mereka bisa lebih fokus pada koneksi manusia dan inspirasi bagi siswa.
• Personalisasi Skala Besar: AI memungkinkan bimbingan (tutoring) yang dipersonalisasi dan membantu menurunkan hambatan bagi pelajar dengan kebutuhan khusus, seperti inovasi dalam penerjemahan Bahasa Isyarat (ASL) bagi komunitas tuli.
• Mendorong Kreativitas: AI dapat "menurunkan lantai" agar lebih banyak orang bisa berkreasi (seperti pemrograman dalam bahasa alami), namun tanpa batasan (guardrails) yang tepat, AI berisiko merusak rasa percaya diri kreatif siswa jika mereka merasa AI lebih mampu daripada diri mereka sendiri.
3. Kebijakan, Keamanan, dan Tanggung Jawab Etis
Kebijakan AI di masa depan harus berakar pada bukti nyata dan penelitian klinis.
• Keseimbangan Inovasi dan Keamanan: Kebijakan harus mampu mempromosikan ekonomi inovasi sekaligus memberikan perlindungan ketat terhadap privasi data, kesehatan mental, serta risiko konten berbahaya seperti deepfake.
• Vigilansi Epistemik: Siswa perlu dilatih untuk memiliki kewaspadaan terhadap penalaran mesin, memahami bahwa AI bukanlah "kotak ajaib" melainkan sistem yang dibangun oleh keputusan-keputusan manusia.
4. Masa Depan Pendidikan
Dalam jangka panjang, fokus pendidikan diprediksi akan bergeser dari sekadar menyiapkan tenaga kerja menjadi membentuk manusia yang mampu berkembang (flourishing) dan menjadi warga negara yang baik dalam masyarakat yang sudah bertransformasi secara radikal oleh AI. Kesuksesan di era ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan peneliti, pengembang teknologi, pendidik, dan terutama suara siswa itu sendiri.
Singkatnya, AI+Education Summit 2026 menyimpulkan bahwa teknologi hanyalah amplifikasi dari sistem yang ada; jika ditempatkan dalam tangan pendidik yang tepat dengan pedagogi yang kuat, AI akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mencapai pembelajaran universal yang berkeadilan